Cinta Berat Sama Mama, Kacian Papa

Nih Uti kasih cerpen yang tadi pagi Uti baca

karangan: Wito Karyono

Dini buakan cewe pertama yang aku taksir. Tapi baru kali ini aku sangat gundah memikirkannya. Sangat ingin memacarinya. Ia adalah siswi SMA kelas III IPA2 sementara aku kelas III IPA1.

Hari-hari selama di sekolah membuatku tak lagi tenang.Jam pelajaran menjadi terasa panjang. Sebaliknya jam istirahat merupakan saat-saat yang sangat kunantikan sekaligus menegangkan.

Mulanya aku diam-diam menaksir gadis berambut sebahu itu.Aku malu jika ketahuan orang lain. Namun lama-lama semua teman mengetahuinya. Dan aku pun tak lagi peduli dengan hal itu.

Aku hany ingin Dini mengetahui bahwa aku menyukainya.Bahwa aku suka dengan senyumnya, dengan tawanya, dengan lirikannya, mungkin juga dengan marahnya. Aku ingin Dini tahu bahwa aku siap melakukan apapun untuk membahagiakannya.

Bersama seorang teman, aku penah mengunjungi rumahnya. Aku pura-pura meminjam catatan pelajaran matematik dimana aku lupa menyalinnya di sekolah.

Di luar dugaan, Dini mau meminjamkannya meski dengan catatan harus dikembalikan esok harinya. Aku tentu memenuhi janji itu, yakni mengembalikan buku tepat waktu.

Episode itu berlangsung teramat singkat. Padahal seharusnya aku bisa mempermainkan waktu lebih panjang. Aku sangat menyuksi Dini tapi tak mau peerasaanku mudah ditebak.

"Ah, Dini andai saja adikalau mengetahui perasaanku."

Seorang kawan yang tergolong cowok playboy di seklah mengataiku sebagai cowok polos, Katanya, saat Dini memperbolehkan bukunya dipinjam, itu pertanda bahwa ia telah memberikan sebagian kecil hatinya untukku.

Mestinya,kata dia lagi, saat itu aku kreatif. Maksudnya, aku bisa mnyelipkan surat dalam bukunya. Surat itu bisa brisi apa saja. Bisa ucapan terimakasih, pujian, hingga curahan perasaan. Dari surat itulah aku bisa melangkah lebih jauh. Dini pasti membacanya.

Sejak saat itu aku berusaha belajar menulis surat cinta. Aku membeli buku yang membahas soal itu. Aku juga tanya dengan kawan-kawan yang berpengalaman. Lalu entah sudah berapa lembar kertas yang telah aku sobek, karena selalu tak puas dengan coretan perasaan yang aku tuangkan untuk Dini.

Suatu ketika saat Pak Widjanarko, guru matematika menerangkan pelajaran di depan kelas, semua siswa menyimak serius. Tanpa sadar aku malah membuka konsep surat cinta untuk Dini yang hampir rampung. Aku membaca kembali perlahan. Lalu mengoreksinya kembali.

Rupanya tingkah polaku ketahuan Pak Widjanarto. Sang guru matematika yang dikenal Killer itu tiba-tiba saja sudah berdiri disampingku. Dengan memaksa ia merebut kertas berisi surat cinta dari tanganku.

Setelah dibacanya sebentar ia mengembalikan lagi kertas itu kepadaku. Namun dengan sebuah perintah yang tajam dan keras. "Sekarang kamu baca isinya di depan kelas. Baca keras-keras!"

Seperti kerbau dicocor hidungnya, aku pun maju kedepan kelas dan membaca surat cintaku untuk Dini keras-keras. Hampis semua murid di kelas tertawa meski ditahan karena takut kena marah Pak Widjanarko.

Aku malu bukan main. Tetapi lebih dari itu aku takut peristiwa memalukan itu sampai di dengar Dini.

***

Sepekan kemudian aku mencoba melupakan pengalaman horo itu. Aku tidak dendam pada Pak Widjanarko, toh surat itu sudah di robek-robek atas perintahnya. Bayangnya jika surat cinta tersebutmenjadi barang bukti atas kebodohanku?

Aku agak tenang karena cerita itu  untungnya tak sampai di dengar Dini. Sambil menunggu hati tenang, aku bertekad untuk mengatakan perasaan di hati ini langsung kepada Dini. Tentu pada waktu dan tempat yang tepat.

Suatu malam aku beranikan diri datang kerumah Dini. Di depan rumahnya yang berhalaman cukup luas, lamat-lamat aku dapati sebuah sepda motor Honda GL. Detak jantungku  langsung berdegub kencang.Aku yakin sepeda motor itu milik seorang cowok saingan beratku.Dugaanku benar, begitu masuk di pekarangan aku melihat Dini sedang mengobrol dengan seorang pria dengan berbadan tgegap dan berambut cepak di ters rumah.

Aku hendak balik kanan, karena takut mengganggu keasyikan Dini. Namun langkahku terhenti karena sang pujaan hati memanggilku.

"Guh,mau kemana. Masuklah," teriaknya. Aku segera menoleh dan menuruti ajakannya.

Dini lalu memperkenalkanku dengan pria tersebut yang ternyata seorang taruna Akbari, kakak kelas Dini saat di SD. Merasa tak enak,setelah basa-basi menanyakan kapan ulangan semesteran kepada Dini, Aku pun pamit pulang. Dini tak lagi menahan.

Besoknya , aku jadi tahu bahwa lelaki berambut cepak itu telah dijodohkan dengan Dini. Dan sudah menjadi rahasia umum di tempatku ketika itu, bahwa mempunyai pasangan hidup seorang taruna Akbari menjadi impian banyak wanita dan orang tuanya. Demikian juga aku yakin dengan keluarga Dini.

***

Bahwa rezeki dan jodoh Tuhan yang mengatur ternyata bukan isapan jempol semata. Singkat kata, aku akhirnya berjodoh dengan Dini tanpa melalui surat cinta. Setelah lulu SMA tanpa dinyana, kami diterima di perguruan tinggi  yang sama, jurusan berbeda. Dini Fakultas Sastra, aku Fakultas Hukum.

Tepatnya pada tahun ketiga kami jadian. Komitmen menjalin hubungan serius muncul beberapa saat setelah Dini putus cinta dengan kekasihnya. Pria tegap dan berambut cepak itu rupanya tak sabar menanti Dini lulus kuliah, sementara ia telah menjadi perwira muda yang bertugas di luar jawa. Dan konon, sudah punya calon istri yang siap dinikahi.

Aku pun menjadi tempat yang tepat untuk curhat. Sebaliknya aku seperti memperoleh kembali merpati yang sempat pergi.

Begitulah, setelah lulus kami kemudian menikah dan di karuniai tiga anak perempuan, sama persis dengan Dini bersaudara, perempuan semua. Kami tinggal dan bekerja di Ibukota Jakarta.

Saat mengandung anak pertama, tiba-tiba Dini minta dibuatkansurat cinta. Sebuah surat cinta yang isinya harus sama persis dengan surat cinta yang telah aku robek saat pelajaran matematika di SMA.

Rupanya, istriku mendengar cerita kala itu. Ia mengaku penasaran karena yang menjadi objek dalam surat itu adalah dirinya.

Tentu saja aku masih ingat isinya. Dan aku tidak keberatan menuliskannya lagi. Apalagi ia memberi embel-embel keinginannya sebagai keinginan sang jabang bayi alias nyidam. Nyidam surat cinta? Kedengarannya aneh memang.

Setelah surat selesai dibuat dalam tempo singkat, Dini lalu menerima  dan membaca pelan-pelan. Aku menunggunya dengan berdebar-debar. Tak lama kemudian Dini tersenyum dan memeluk surat itu dalam dekapannya. Ia tampak begitu bahagia. Anak pertama kami pun lahir begitu sempurna. Cantik,rambut tebal, kulit putih dan bersih, sebersih buah cinta kami yang tulus.

***

"Emang isinya surat itu kayak apa sih. Jadi penasaran," kata Amanda (20 tahun) anak pertama kami, yang kini semester empat di Fakultas Psikologi.

"Iya bacakan saja Ma.… Ninda juga penasaran,” kata Aninda (13 tahun), anak kedua kami, yang kelas 2 SMP.

Mungkin ingin bereaksi seperti kakak-kakaknya, namun tak tahu apa yang mau diucapkan,  si bungsu Aghnia (5 tahun) yang masih TK B pindah duduk dari pangkuan ibunya ke pangkuanku.  Eyang kakung dan eyang  putri ikut mendengarkan sambil tersenyum-senyum.

Ketika itu kami memang tengah berkumpul di rumah mertua, mudik ke kampung halaman yang telah menjadi tradisi tahunan.

Kami tertawa-tawa mengenang masa lalu. Melihat foto-foto jadul kami semasa kuliah dan semasa SMA. Juga foto-foto Dini dan saudaranya sewaktu SMP, SD, bahkan bayi. Beruntung Dini punya orangtua yang telaten menyimpan album foto anak-anaknya.

Dari tiga bersaudara hanya Dini yang selalu mudik setiap tahun. Kakak Dini ikut, suaminya yang anggota TNI ke Papua, sedang adik Dini juga diboyong suami ke luar negeri, yakni Italia. Jadilah menjadi kewajiban kami untuk sowan mudik setiap tahun.

Tiba-tiba Dini keluar lagi dari kamar dengan membawa secarik kertas. Secarik kertas itu adalah surat cinta yang ditunggu-tunggu.  Ia memberikan surat itu kepadaku untuk membacakannya.
Inilah kali kedua aku membacakan surat cinta untuk Dini, setelah 25 tahun lalu.

Untuk Andini
Cewek Tercantik di Sekolah
Jika saat ini ada pemuda paling gundah sedunia. Asal kamu tahu, akulah orangnya.
Jika saat ini ada pria paling susah tidur setiap malam. Kamu boleh tahu, akulah orangnya.
Jika saat ini ada orang sedang sangat kasmaran, ketahulan Dini, akulah orangnya.
Aku gundah dan tak bisa tidur hanyalah memikirkan satu orang, Dinilah orangnya.
Aku kasmaran berat hanya pada satu orang pula. Satu orang itu Dinilah namanya.
Diniku yang tercantik
Aku tak akan pernah lelah menyukaimu.
Miss You
Teguh Mahardika.

Setelah surat dibaca hening langsung menyergap. Aku dan istriku sempat melirik ke arah anak-anak kami, menunggu reaksi.

“Lumayan, ternyata Papa romantis juga.” kata Amanda.
“Papa cinta berat sama mama ya. Kacian deh Papa…,” ucap Aninda.

Lalu senyum kami meledak menjadi tawa ketika si bungsu ikut komentar: “Aku ora ngerti, ora ngerti…” ucap Aghnia dalam bahasa Jawa.

Selama di kampung halaman neneknya, bocah itu memang sedang beradaptasi belajar bahasa Jawa meski kerap membuat tertawa pendengarnya.




                                     

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »