Aku, Dia dan Mama

uti tadi baca cerpen ini tadi di perpus, jadi uti post aja sapa tau suka
 
Karya Geibs Kojongian
Pagi yang cerah dan kicauan burung merdu membangunkan Geneva dari tidur malamnya. Gea! Itulah nama panggilan untuk gadis yang bernama lengkap Geneva Aurora ini. Gea yang berusia 16 tahun ini langsung bangkit dari tempat tidurnya dan bersiap menuju ke SMA Pelita Harapan. Selain mempersiapkan diri, Gea juga mempersiapkan mentalnya, karena ia tahu banyak tantangan yang telah menunggunya di sekolah.

Langkah Gea begitu berat keluar dari rumah. Hari ini genap satu minggu mamanya menetap di penjara, setelah terbukti melakukan korupsi di perusahaan tempat Geysita, mama Gea bekerja.

Sekitar 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya Gea tiba di sekolah yang menjadi neraka baginya beberapa hari ini. Ia turun dari mobil dan memandang gedung elite di depannya. Perlahan Gea melangkah memasuki gerbang sekolah, sambil bertanya pada dirinya, apa dia masih layak berada di sekolah itu?
*****
 

Gea duduk termenung di taman sekolah yang menjadi sahabatnya akhir-akhir ini. Gea berusaha pulih dari masalah yang menimpanya. Tapi, masalah itu terlalu berat dan membuatnya sangat terpukul. Di tambah lagi semua teman-temannya yang menjauh darinya.
“Tuhan, kenapa Engkau berikan cobaan seberat ini padaku? Aku sudah tidak kuat Tuhan…” Rintih Gea dalam hatinya. Air matanya jatuh bercucuran. Di tengah tangisnya, seseorang datang menghampirinya.
“Jangan menangis. Tuhan memberikan cobaan tidak melebihi kemampuan manusia.” Ucap orang itu.
“Kak Evan? Kenapa kakak di sini? Mau mengejek ku?” Tanya Gea dengan ketus.
“Tidak. Kakak di sini mau mendengar cerita mu. Kakak tahu kau butuh teman. Kakak bersedia untuk...” Jawab Evan tenang.
“Sudahlah! Jangan berpura-pura. Aku tahu maksud kakak. Kakak ke sini untuk mendengar cerita ku lalu pergi menyebarkannya kepada semua orang.” Sela Gea. Gea tidak percaya dengan apa yang dikatakan Evan. Karena selama ini dia dan Evan tidak memiliki hubungan lebih dari kakak dan adik di sekolah.
“Gea, kakak tulus ingin menjadi teman mu. Kakak tidak berniat untuk menceritakan perasaan mu pada anak-anak yang lain.Anggapan mu tentang kakak tidak benar.”
Entah apa yang membuat Gea menerima alasan dari Evan itu. Gea menceritakan bagaimana kehidupannya sekarang ini. Gea merasa ia harus menceritakan semuanya.
*****

2 minggu telah berlalu. Kini Gea sudah mulai bangkit lagi. Gea sudah mulai bisa menerima semuanya. Menerima kepergian mama dan teman-temannya. Bangkitnya Gea tidak lepas dari Evan yang benar-benar menjadi temannya.

Pertemuan di taman 2 minggu yang lalu adalah awal perasaan tak wajar yang dirasakan Gea. Tanpa Gea pungkiri perasaan sayangnya pada Evan bukan lagi sebagai kakak beradik. Namun, Gea tidak berani mengungkapkannya karena ia tak mau menghancurkan hubungan yang bisa membuat ia bangkit seperti sekarang ini.
“Kak Evan mana ya?” Ucap Gea pada dirinya sendiri sambil mencari Evan. Dari lantai 2 Gea berusaha menemukan Evan, namun hasilnya nihil. Gea kemudian berjalan menuju tangga, tapi 2 orang kakak kelas datang menghampirinya.
“Ehem…” Sindir salah seorang kakak kelas.
“Permisi kak. Gea mau lewat.” Ucap Gea dengan hati-hati.
“Kalau tidak bisa bagaimana?”
“Tapi kak…”
“Ah, sudahlah jangan membantah. Sadar kamu masih kelas 10. Dasar anak koruptor!”

Gea terdiam mendengar perkataan kakak kelasnya itu. Hatinya kembali tertusuk. Biasanya dalam situasi seperti ini Evan selalu membantunya. Tapi, saat ini dia harus berjuang sendiri. Belum hilang bekas perkataan tadi, Gea kembali mendengar kalimat yang sangat menyakitkan.
“Anak koruptor, asal kamu tahu, kamu itu parasit! Memangnya kamu pikir Evan suka dengan mu?! Mimpi!”

Kalimat itu membuat Gea tak bisa lagi berdiri di tempat itu. Tanpa menunggu lama, Gea langsung menerobos ke dua orang itu dan berlari ke taman sekolah. Sesampainya di taman, tangisnya langsung pecah!
“Ya Tuhan, bantu aku… bantu aku!!!” Rintih Gea dalam tangis.
“Gea? Ada apa dengan mu? Gea?” Tanya Evan yang tiba-tiba datang.
“Kak Evan, lebih baik kakak tinggalkan Gea sendiri. Aku selalu merepotkan kak Evan selama ini. Maafkan aku.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Gea tidak pernah merepotkan kakak.”
“Sudahlah, Gea sudah mendengarnya kak.”
“Mendengar apa?”
“Kak Evan sebenarnya tidak suka dengan ku. Selama ini aku mungkin seperti parasit dalam hidup kak Evan. Menumpang untuk mendapatkan kebahagiaan...”
“Sssssttttt! Itu tidak benar Gea. Kakak tulus menjadi teman mu.” Sela Evan sambil menarik Gea dalam dekapannya. Berusaha memberikan pelukan paling nyaman untuk Gea. Gea menangis dalam pelukan Evan. Evan membiarkan Gea menangis mencurahkan sakit hatinya. Suasana saat itu terasa sunyi, hanya terdengar suara tangisan Gea dan hembusan angin.
*****

Hari ini tanggal 18 Oktober. Hari ini adalah hari ulang tahun ibu Geysita. Sepulang sekolah Gea langsung menuju toko yang menjual kue tart. Sesampainya di toko, Gea dikejutkan oleh Evan yang ada di sana.
“Kak Evan???” Kata Gea dengan heran.
“Oh, kakak tadinya ingin membeli kue untuk nanti malam kumpul-kumpul dengan teman-teman, tapi nanti saja. Kakak boleh temani kamu menjenguk mama kamu?”
“Em, boleh kak. Tapi…” Gea menggantung perkataannya, karena ia merasa tidak enak pada Evan.
“Tenang saja. Tidak apa-apa kok.” Sela Evan seakan mengerti maksud Gea.
*****

“Bu Geysita, ada yang ingin bertemu dengan Anda.” Ucap pak polisi sambil membuka pintu penjara.
“Oh iya. Terima kasih pak.” Ucap Geysita berterima kasih sambil berjalan keluar. Ibu Geysita berjalan menuju ruang kunjungan. Ketika ia masuk terdengar suara Gea yang mulai bernyanyi dengan kue di tangannya dan lilin berangka 50 tahun yang berdiri tegak di atas kue. Dan lebih terkejut lagi saat melihat orang yang menemani Gea saat itu.
“Apa yang ku berikan untuk mama untuk mama tersayang
Tak ku miliki sesuatu berharga untuk mama tercinta
Hanya ini ku nyanyikan senandung dari hatiku untuk mama

Hanya sebuah lagu sederhana lagu cinta ku untuk mama…”
“Ayo ma, make a wish lalu tiup lilinnya.” Pinta Gea selesai ia menyanyi dengan suara yang mulai bergetar. Mamanya menuruti perkataan Gea.
“Happy Birthday ma. Semoga mama bisa melewati semua ini, lebih kuat, dan jadilah mama yang tegar. Gea selalu sayang mama.” Kata Gea sesudah mamanya meniup lilin.
“Gea… Terima kasih sayang. Terima kasih selalu menyayangi mama… Terima kasih mau menerima kekurangan mama. Mama minta maaf karena selama ini sudah membuat hidup mu susah. Maaf kalau selama ini mama tidak bisa membahagiakan mu, nak. Tapi, Gea harus tahu dalam setiap doa mama, ada nama Gea. Lanjutkan sekolah mu ya sayang. Gapai cita-cita mu. Jangan menyerah.” Pesan mamanya sambil terisak.
“Iya ma… Itu pasti. Mama, kenalkan ini kak Evan. Dia kakak kelas Gea ma. Kak Evan yang menemani Gea selama mama di sini. Dan ini bunga melati putih untuk mama. Ini dari Gea dan kak Evan.”
“Selamat ulang tahun tante. Semoga umur panjang dan sehat selalu.” Ucap Evan
Mendengar Ucapan Evan membuat air mata ibu Geysita semakin deras mengalir. Tak lupa ia berpesan pada Evan untuk menjaga Gea seperti adiknya sendiri.

Di tengah pembicaraan mereka tiba-tiba datanglah seorang polisi.
“Permisi bu, jam kunjungannya sudah habis. Adik-adik mohon untuk keluar.”
Dengan berat hati mereka berpisah. Ibu Geysita berjalan menuju ruang tahanan sedangakan Gea dan Evan berjalan keluar gedung itu.
*****

Semakin hari Gea dan Evan semakin dekat. Semakin banyak hal yang dia lalui bersama Evan maka semakin dalam perasaannya. Kadang Gea menunjukkan perhatian yang lebih pada Evan, namun Evan seakan tak menyadari hal itu.

Suatu saat ketika Gea tidak bisa lagi membendung rasa sayangnya, Gea berniat mengungkapkan perasaanya pada Evan.
“Kak, jalan-jalan yuk?” Tanya Gea saat sedang makan bersama Evan di kantin sekolah.
“Maksud kamu?”
“Ya, jalan-jalan nanti malam. Terserah kemana saja. Bagaimana?”
“Boleh juga. Kalau begitu kakak jemput kamu ya?”
“Baiklah kak.”
*****

“Pokoknya aku harus tampil menarik di depan kak Evan.” Ucap Gea sambil menatap dirinya di cermin. Kali ini Gea membuat penampilannya lain dari biasanya dan ia yakin Evan akan tertarik melihatnya.
Beberapa saat kemudian terdengar mesin mobil di depan rumah. Gea melihat keluar dari jendela kamarnya untuk memastikan bahwa itu adalah Evan. Dan ternyata benar. Gea langsung turun dan berpamitan pada pamannya yang menemaninya di rumah selama ini.
“Om, Gea pergi dulu ya?”
“Iya, hati-hati ya. Jangan pulang terlalu malam.”
“Iya om.”

Setelah berpamitan Gea langsung keluar. Memang benar kalau Evan terpana melihat penampilannya hari ini. Namun, Evan bertanya-tanya, kenapa Gea berpenampilan lain dari biasanya?
“Sudah siap?” tanya Evan dengan sebaris senyum.
“Sudah kak.” Jawab Gea dengan senyum pula.
“Ya sudah. Ayo naik.” Ucap Evan sambil membuka pintu mobil.

Evan menancap gas. Membawa Gea ke suatu tempat.
“Kita mau kemana kak?”
“Ke suatu tempat yang indah.” Jawab Evan dengan senyum sambil memandang ke depan. Mendengar jawaban Evan, Gea diam saja.

Sekitar 20 menit akhirnya mereka sampai di sebuah bukit. Pemandangan di tempat itu sangat indah, suasananya pun sangat tenang.
“Wow. Sungguh indah!” Ucap Gea yang mengagumi semua yang ada di bukit itu.
“Ini tempat ku melepas keluh kesah. Di saat aku ada masalah, tempat ini selalu menjadi sahabat ku. Anginnya yang bertiup lembut seakan mendengar semua cerita ku. Kalau kamu mau cerita semua masalah mu, cerita saja. Tempat ini pasti akan setia mendengarnya.”

Evan berjalan menuju kursi yang ada di bukit itu. Gea pun mengikutinya. Gea langsung duduk di samping Evan dan mulai bercerita.
“Saat mama pergi, aku bagaikan anak kecil yang jatuh di sumur yang dalam. Takut, menangis, dan tak tahu bagaimana memanjat ke atas. Beberapa hari seperti itu. Dan Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk mengangkat aku. Ia menjulurkan tali untuk ku memanjat. Dan akhirnya aku bisa keluar dari sumur itu. Aku sakit, tak mampu berdiri walau sudah keluar dari tempat itu. Malaikat itu dengan tulus menemani ku, mambantu ku agar bisa sembuh dan bisa berdiri lagi. Dia ada saat dunia menjauhi ku. Aku sangat menyayangi malaikat ku itu. Tiap hari aku memikirkannya, hingga perasaan sayang yang lebih mulai tumbuh hingga sekarang. Awalnya aku bisa menyimpannya. Tapi, ternyata aku tak sekuat itu. Aku tak bisa lagi membendung rasa cinta ku itu.” Gea menutup ceritanya. Evan kaget dengan cerita Gea. Dia tak menyangka kalau ketulusannya membuat Gea jatuh hati padanya.
“Ge… Gea?” Kata Evan yang masih kaget.
“Bagaimana perasaan kak Evan pada ku?” Tanya Gea sambil memandang Evan.
“Gea, kakak minta maaf…” Ucap Evan tertatih. Air mata Gea mulai keluar.
“Gea, kakak memang sayang pada mu. Tapi hanya sebagai adik. Ada satu hal yang tak kamu tahu adik ku.”
“Apa?”
“Se… sebenarnya kamu itu adik ku… Kamu dan aku kakak beradik. Dulu mama dan papa bercerai saat kau baru lahir. Aku dibawa papa, dan kamu dibawa mama. Saat aku kelas 1 SMA papa meninggal. Dan seakarang aku tinggal di rumah om kita. Setahun yang lalu aku bertemu dengan mama. Dia meminta ku untuk menjaga mu. Menjaga mu dari jauh. Mungkin tanpa kau tahu, selama kurang lebih 1 tahun ini, aku selalu memerhatikan mu…”
“Ja… jadi, kau itu kakak ku?”
“Iya. Kau tahu arti Geneva di nama mu?”
“Apa?”
“Nama mu gabungan nama kita berdua. Gea dan Evan. Dan aku pernah berjanji ketika aku besar, aku akan menjaga mu.”
“Kak, Gea mungkin bisa kehilangan kakak sebagai teman. Tapi… Gea tidak bisa kehilangan kak Evan sebagai kakak kandung Gea. Sekarang Gea tahu kalau di dunia ini Gea tak sendiri. Gea masih punya kakak yang selalu ada untuk Gea. Kak, bisakah kakak mengantarku ke makam papa?”
“Bisa! Sangat bisa. Ayo kita pergi.”
Mereka berdua langsung beranjak dari bukit itu, dan pergi menuju makam papa mereka. Hari itu perasaan Gea begitu lega. Lega karena ternyata Evan bukan teman atau pacar yang hanya bisa dimiliki sementara, tapi kakak yang dimilikinya untuk selamanya.
*****
PROFIL PENULIS
Nama : Geibs Kojongian
TTL : Kotamobagu, 28 Sep 1995
Umur : 17 Tahun
Facebook. : Geibs Biverly Kojongan
 
 
 

 

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »